oleh

Dihantam Corona Duta Batik Palu Berdayakan Penjahit Produksi Masker Bermotif Batik

Suluhmerdeka.com – Pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha di Palu, Sulawesi Tengah, terpuruk. Salah satunya pelaku usaha di bidang menjahit adalah Nurdin Hadade (60). Nurdin merupakan penjahit yang membuka lapak di Jalan Manimbaya. Sejak Februari lalu, lapak jahitnya yang diberi nama Agung Tailor tutup.

“Tidak ada orang datang bajahit baju. Karena sepi jadi saya tutup,” kata Nurdin, Jumat (13/11/2020).

Menurutnya saat pandemi semuanya serba susah. Padahal dulu sebelum pandemi omset perbulannya mencapai hingga RP. 5 juta per bulan bahkan lebih.

Beruntung awal Oktober 2020 lalu ia kemudian diajak kerjasama dengan Duta Batik Palu, untuk membuat alat pelindung diri, berupa masker dengan motif batik. Akhirnya kurang lebih 9 bulan tempat jahit yang tadinya tutup kini kembali di buka.

“Alhamdulillah, saat ini lapak jahitan saya sudah kembali dibuka,” katanya.

Dalam kerjasama ini ia dibayar RP. 5.000 per masker.

Menurutnya menjahit masker tidaklah sulit. Butuh waktu satu hari untuk menjahit 200 masker. Ia berharap pesanan untuk membuat masker ini terus mengalir. Ia bersyukur bisa bekerjasma dengan Duta Batik Palu.

Mengenalkan batik Palu lewat Masker

Sepak terjang dari Komunitas Batik Palu boleh diacungkan jempol. Pasalnya mereka berusaha memperkenalkan batik lokal Sulawesi Tengah lewat masker. Juga membantu para penjahit bangkit dari keterpurukan di masa pandemi.

Ketua Duta Batik Palu, Zakiyah Ramayanih (28) mengatakan ide pembuatan masker batik ini terinspirasi dari daerah di wilayah Jawa. Dimana mereka membuat masker dengan motif batik.

Atas dasar itulah ia kemudian berpikir bagaimana caranya mengenalkan batik lokal lewat masker.

“Nah, akhirnya saya dan kawan komunitas lain membahas ide pembuatan masker ini. Bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2020 lalu, akhirnya dibuatlah masker batik khas Palu dan bekerjasama dengan Agung Tailor,” jelas Zakiyah.

Karena baru awal, Zakiyah mengatakan saat ini baru diproduksi sebanyak 200 lembar masker batik. Harganya dibanderol Rp 20.000 saja per lembarnya.

Untuk mengerjakan pembuatan masker batik ini, Ia melibatkan 2 UMKM di Palu, yakni pengrajin kain batik lokal dan penjahit pembuat masker. Untuk motif batik, Zakiyah memilih menggunakan batik cap, karena harganya jauh lebih murah dibanding batik tulis.

Untuk pemasarannya sendiri baru sebatas dalam Kota Palu. Namun begitu ia berharap masker batik berikutnya bisa merambah daerah di luar Palu. (Erna DW)

News Feed