TOLITOLI, Suluh Merdeka – Lonjakan pasien yang diduga dipicu meningkatnya kasus diare dan muntaber membuat pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Mokopido Tolitoli berada di bawah tekanan.
Kapasitas ruang perawatan dilaporkan sempat tidak lagi mampu menampung jumlah pasien yang terus berdatangan, sehingga sebagian pasien harus menjalani perawatan sementara di luar ruang perawatan maupun dipindahkan ke ruangan lain.
Pantauan di rumah sakit menunjukkan mayoritas pasien yang datang merupakan anak-anak dengan keluhan diare, muntah, dan dehidrasi. Hampir seluruh ruang perawatan anak dilaporkan penuh, sementara tenaga kesehatan harus bekerja ekstra untuk melayani pasien yang terus bertambah.
Beberapa tenaga kesehatan yang ditemui media ini mengakui adanya peningkatan signifikan kasus diare dan muntaber dalam beberapa pekan terakhir.
Salah seorang perawat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, lonjakan pasien tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
“Kasus diare maupun muntaber memang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Pasien yang datang bukan hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa,” ujarnya.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan cuaca panas berkepanjangan yang melanda Kabupaten Tolitoli selama musim kemarau. Selain itu, persoalan sanitasi, kualitas makanan, dan ketersediaan air bersih dinilai menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
Mawar, salah satu orang tua pasien, mengaku panik ketika kondisi anaknya terus memburuk sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
“Awalnya anak saya mengeluh mual dan sakit perut. Kondisinya semakin parah sehingga kami langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan,” katanya.
Di tengah membludaknya pasien, muncul informasi dari sejumlah sumber mengenai dugaan adanya seorang pasien anak yang meninggal dunia. Namun, hingga berita ini diterbitkan, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen maupun dikonfirmasi secara resmi oleh pihak rumah sakit.
Minimnya keterbukaan informasi dari pihak RSUD Mokopido turut memunculkan pertanyaan publik. Hingga kini belum ada data resmi mengenai jumlah pasien yang dirawat, jumlah kasus diare dan muntaber yang ditangani, maupun penjelasan apakah lonjakan tersebut telah memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) atau masih dalam batas penanganan normal.
Upaya media ini untuk memperoleh konfirmasi dari manajemen rumah sakit juga belum membuahkan hasil. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Mokopido, Titis Widaryani, SKM. M,Kes. menolak memberikan penjelasan resmi saat dikonfirmasi wartawan dan meminta agar permintaan wawancara diajukan secara tertulis terlebih dahulu.
Sikap tersebut memunculkan pertanyaan mengenai transparansi informasi di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat. Dalam situasi ketika layanan kesehatan sedang menjadi perhatian publik, keterbukaan informasi dinilai penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi sebenarnya, sekaligus mencegah berkembangnya spekulasi dan informasi yang belum terverifikasi.
Hingga berita ini diterbitkan, Suluh Merdeka masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak manajemen RSUD Mokopido, Dinas Kesehatan Kabupaten Tolitoli, serta instansi terkait lainnya mengenai penyebab lonjakan kasus, jumlah pasien yang terdampak, dan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk mengendalikan situasi. (*)










