oleh

Gubernur Sulteng Sebut Pembunuhan di Lemban Tongoa Keji dan Biadab

Suluhmerdeka.com – Gubernur Sulawesi Tengah H Longki Djanggola mengatakan
pembunuhan di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi adalah suatu perbuatan yang keji, biadab dan tidak bertanggungawab yang dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

“Perbuatan tersebut tidak ada kaitannya dengan agama karena semua agama tidak membenarkan perbuatan keji dan biadab tersebut,” kata Longki Djanggola saat dihubungi, Minggu, 29 November 2020.

Longki juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa itu.

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Abdul Rakhman Baso bersama Danrem 132/Tadulako Brigjen TNI Farid Makhruf dan Wakapolda Sulteng Brigjen Pol Herry S, saat memberikan keterangan pers di rumah jabatan, Minggu pagi, 29 November 2020. (Foto Patar)

“Saya Gubernur Sulawesi Tengah dan seluruh masyarakat Sulteng turut barduka cita,” ucap Longki.

Tambahnya, alhamdulilah saat ini Kapolda dan Danrem bersama jajaran sedang mengejar pelaku-pelaku teror tersebut.

“Dan untuk keamanan masyarakat Lembang Tongoa kedepan, kapolda dan kapolres sudah siap uuntuk membantu mengamankan dan melindungi warga trans disitu dengan menempatkan petugas-petugas pengamanan,” kata Longki.

Sementara itu, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Abdul Rakhman Baso menyebut pimpinan MIT Ali Kalora ikut melakukan penganiayaan yang menyebabkan empat warga Desa Lembang Tongoa meregang nyawa serta membakar rumah-rumah warga setempat. Kepastian itu diperoleh dari keterangan saksi hidup setelah diperlihatkan foto-foto DPO.

Hal itu disampaikan Irjen Abdul Rakhman Baso saat memberikan keterangan pers di rumah jabatan, Minggu pagi, 29 November 2020, di Palu.

Dia pun menyatakan tindakan mereka (kelompok MIT) itu tidak berperikemanusiaan dan biadab.

Kapolda mengatakan, saat ini masih ada 11 orang yang masuk dalam DPO. Dua orang yang berhasil ditindak tegas di Desa.Bolano, Kabupaten Parigi Moutong, 17 November lalu.

Kapolda meminta kepada masyarakat agar tidak menyebarkan foto-foto serta video yang memperlihatkan seakan-akan ada gereja yang ikut dibakar. “Saya luruskan, tidak ada gereja yang dibakar. Dari enam rumah yang dibakar, salah satunya digunakan untuk beribadah tetapi tidak rutin,” kata Abdul Rakhman Baso. (Ptr)

News Feed