Daerah

DPPKB Kabupaten Tolitoli Peringati Harganas ke-33, Usung Tema “Ayah Wajib Hadir”

3
×

DPPKB Kabupaten Tolitoli Peringati Harganas ke-33, Usung Tema “Ayah Wajib Hadir”

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

TOLITOLI,SuluhMerdeka – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Tolitoli bersama Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Kabupaten Tolitoli melaksanakan upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia, mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tolitoli beserta jajaran organisasi perempuan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tolitoli. Peringatan Harganas berlangsung meriah dengan berbagai perlombaan yang diikuti para Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) bersama sejumlah instansi terkait.

Dalam sambutannya, Kepala DPPKB Kabupaten Tolitoli, Yustiyanto Bantilan, S.Kom., M.Si, menyampaikan bahwa tema “Ayah Wajib Hadir” menggambarkan pentingnya peran ayah dalam kehidupan keluarga. Menurutnya, ayah bukan hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam proses pengasuhan dan pembentukan karakter anak.

“Keterlibatan ayah dalam pengasuhan merupakan faktor yang sangat menentukan pembentukan kepribadian, kestabilan emosi, serta masa depan anak. Tantangan terbesar yang dihadapi keluarga saat ini sering kali bukan berasal dari orang lain, melainkan dari penggunaan gawai yang berlebihan sehingga mengurangi kualitas interaksi dalam keluarga. Oleh karena itu, kehadiran ayah dalam mendampingi anak menjadi semakin penting,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tema Harganas ke-33 membawa beberapa pesan utama, diantaranya, Kehadiran fisik dan emosional ayah, dengan mengajak para ayah untuk terlibat aktif dalam pengasuhan anak sejak dini, bukan hanya sebagai pencari nafkah. Kemudian Pengasuhan bersama, yang menegaskan bahwa ayah dan ibu merupakan satu tim dalam menjalankan tanggung jawab pengasuhan. Dan Pembentukan karakter anak, karena keterlibatan ayah berperan penting dalam perkembangan sosial, emosional, kesehatan mental, serta rasa percaya diri anak.

Yustiyanto juga mengutip Panduan Komunikasi Harganas ke-33 Tahun 2026 yang menetapkan tema “Ayah Wajib Hadir” sebagai payung kampanye nasional. Tema tersebut menekankan pentingnya kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

RAYAKAN HARGANAS – Tampak Kepala Dinas DP2KB memotong tumpeng saat menggelar perayaan Harganas dihalaman kantor (29/6)

Menurutnya, ayah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan rasa aman, kasih sayang, teladan, serta berperan aktif dalam pendidikan anak. Tema ini diangkat sebagai respons terhadap berbagai tantangan keluarga masa kini, seperti perubahan pola interaksi akibat digitalisasi, belum optimalnya pembagian peran pengasuhan, persoalan stunting, hingga perlindungan anak.

“Harganas 2026 menjadi momentum untuk memperkuat keluarga sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Yustiyanto menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi harus didukung oleh tiga pilar utama, yaitu pembangunan keluarga, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.

Ia menyimpulkan bahwa peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keluarga sebagai pilar utama pembangunan. Melalui tema “Ayah Wajib Hadir”, pemerintah mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan anak guna mencegah berbagai persoalan sosial sekaligus mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Menurutnya, terdapat empat tujuan utama dari tema “Ayah Wajib Hadir”, pertama, mendorong kehadiran ayah secara fisik maupun psikologis dalam membangun ikatan emosional, mendidik, serta membentuk karakter anak. Kedua, memperkuat ketahanan keluarga sebagai benteng utama dalam mencegah kenakalan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai tantangan sosial lainnya. Ketiga, mewujudkan keluarga berkualitas melalui penguatan delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan, sebagai langkah menuju Indonesia Emas 2045. Dan ke empat membangun pondasi generasi penerus, dengan menjadikan keluarga sebagai lingkungan pertama yang aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang anak agar menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.

Menutup sambutannya, Yustiyanto mengajak seluruh masyarakat untuk mengubah paradigma tentang keluarga.

“Keluarga bukan sekadar unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga adalah hulu dari seluruh kebijakan publik dan fondasi utama bagi keberhasilan pembangunan nasional. Dari keluarga yang kuat akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Rendra)