PALU, Suluh Merdeka — Malam di Jalan Tombolotutu, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (27/8), seharusnya berjalan seperti malam-malam biasa. Aktivitas warga masih berlangsung, kendaraan melintas, dan sebuah minimarket tetap melayani pembeli.
Namun, suasana itu berubah dalam hitungan menit, ketika keributan pecah sekitar pukul 21.10 Wita. Adu mulut antara seorang juru parkir minimarket berinisial D dan seorang oknum anggota Provost Polda Sulteng berkembang menjadi bentrokan fisik.
Senjata tajam kemudian disebut terlibat dalam perkelahian tersebut.
Tak lama berselang, suara letusan senjata api mengagetkan warga di sekitar lokasi.
Malam itu menjadi titik akhir bagi D, yang selama ini mencari nafkah sebagai juru parkir. Ia mengalami luka tembak dan segera dilarikan ke RSUD Anutapura Palu untuk mendapatkan pertolongan medis.
Di sisi lain, oknum anggota Provost yang terlibat dalam keributan juga mengalami luka akibat senjata tajam. Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, D diduga menyerang menggunakan parang hingga menyebabkan luka serius pada bagian tangan. Bahkan, jari kelingking anggota tersebut dilaporkan putus.
Dalam situasi yang semakin genting, oknum aparat tersebut diduga melepaskan tembakan dengan alasan melakukan pembelaan diri. Rentetan kejadian itulah yang kini menyisakan sejumlah pertanyaan mengenai bagaimana sebenarnya bentrokan tersebut bermula dan bagaimana peristiwa berdarah itu berlangsung.

D sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Anutapura. Tetapi upaya tim medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Sekitar pukul 02.30 Wita, Jumat (28/8), D dinyatakan meninggal dunia.
Informasi medis menyebutkan, korban mengalami delapan luka tembak yang mengenai bagian leher, dada dan kaki. Kabar kematian itu sontak mengubah suasana rumah sakit. Isak tangis keluarga pecah di ruang IGD, mengiringi kepergian D setelah sebelumnya terlibat dalam keributan yang berakhir tragis.
Peristiwa tersebut ternyata tidak hanya meninggalkan satu korban.
Seorang warga berinisial MD yang berada di sekitar lokasi juga dilaporkan terkena peluru nyasar. Beruntung, kondisi MD disebut dalam keadaan baik setelah mendapatkan penanganan medis.
Kini, insiden di Jalan Tombolotutu itu menyisakan duka sekaligus sejumlah persoalan yang harus dijawab secara terang. Apa yang sesungguhnya memicu adu mulut? Bagaimana perkelahian itu berubah menjadi penggunaan senjata tajam dan senjata api? Serta apakah setiap tindakan dalam insiden tersebut telah sesuai dengan prosedur?.
Rangkaian pertanyaan itu menjadi bagian penting dari proses penyelidikan untuk mengungkap secara utuh peristiwa yang bermula dari sebuah pertengkaran, tetapi berakhir dengan hilangnya satu nyawa.
Bagi keluarga D, malam Kamis itu bukan lagi sekadar catatan sebuah keributan di pinggir jalan. Malam tersebut menjadi kenangan pahit tentang seorang anggota keluarga yang pergi untuk selamanya setelah sebuah perselisihan berubah menjadi tragedi berdarah. (*)












