TOLITOLI, Suluh Merdeka – Ancaman gagal panen menghantui petani di Desa Salumpaga, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli. Puluhan hektar lahan persawahan dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan hama wereng yang semakin meluas, diperparah dengan menurunnya debit air irigasi karena musim kemarau yang berkepanjangan.
Kondisi tersebut membuat para petani khawatir kehilangan hasil panen yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama mereka. Jika tidak segera mendapat penanganan serius dari pemerintah, dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat memicu kenaikan harga beras di pasaran.
Salah seorang petani, Hi Subhan, mengungkapkan bahwa serangan hama wereng dan kekeringan saat ini telah menyebabkan tanaman padi mengalami penurunan produktivitas secara signifikan.
“Selain serangan hama wereng, faktor debit air yang terus menurun akibat kemarau panjang juga menjadi penyebab utama yang mengancam panen petani di Desa Salumpaga,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat semakin parah apabila kemarau terus berlanjut hingga musim tanam berikutnya. Lahan persawahan yang mengering berpotensi tidak dapat diolah karena tanah menjadi keras dan sulit dibajak.
“Kalau kemarau ini terus berlangsung sampai musim tanam berikutnya, besar kemungkinan petani tidak bisa menanam. Sawah akan kering dan tidak dapat diolah sebagaimana mestinya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Tolitoli, Taufik, menilai dampak gagal panen tidak hanya mengancam pendapatan petani, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan harga beras di tingkat konsumen.
Menurutnya, jika kondisi ini tidak segera diatasi, harga gabah dan beras diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan menjelang akhir tahun.
“Saat ini harga beras masih berkisar Rp12 ribu per kilogram. Namun apabila gagal panen terjadi secara luas, harga beras bisa melonjak hingga Rp15 ribu per kilogram pada November hingga Desember mendatang,” jelas Taufik.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Tolitoli, Dinas Pertanian, serta instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan langkah-langkah penyelamatan, mulai dari penanganan serangan hama wereng, penyediaan bantuan sarana pengendalian hama, hingga solusi atas berkurangnya pasokan air irigasi.
Selain itu, pemerintah juga diharapkan meningkatkan sosialisasi dan pendampingan kepada petani agar mampu menghadapi serangan hama secara efektif dan meminimalkan kerugian yang lebih besar.
Kondisi yang dialami petani Salumpaga ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah.
Jika tidak segera ditangani, ancaman gagal panen bukan hanya berdampak pada kesejahteraan petani, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan serta memicu kenaikan harga beras yang membebani masyarakat luas. (*)











