TOLITOLI, Suluh Merdeka – Kondisi pertanian di Kabupaten Tolitoli kembali menghadapi tantangan serius akibat musim kemarau berkepanjangan dan rusaknya jaringan irigasi di sejumlah wilayah. Situasi tersebut diperkirakan akan berdampak pada penurunan produksi padi, sehingga harga beras berpotensi mengalami kenaikan pada Oktober hingga November 2026.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Tolitoli, Taufik, SE, mengatakan hasil pemantauan di lapangan menunjukkan banyak lahan sawah tidak dapat ditanami, bahkan sebagian mengalami gagal panen karena kekurangan air.
Menurutnya, di Kecamatan Dondo terdapat ratusan hektare sawah pada musim tanam (MT) yang tidak digarap petani karena debit air irigasi sangat kecil, bahkan di beberapa titik air tidak lagi mengalir akibat kerusakan jaringan irigasi.
Selain itu, puluhan hingga ratusan hektare tanaman padi di sejumlah wilayah juga mengalami gagal panen. Tanah sawah terlihat kering dan pecah-pecah, seperti yang terjadi di Desa Aung, Kecamatan Galang. Kondisi serupa juga ditemukan di Dusun Akokang, Desa Tende, kawasan Ginunggung yang berbatasan dengan Desa Kalangkangan, serta beberapa wilayah lainnya.
“Kalau kondisi ini tidak segera ditangani, produksi padi dipastikan tidak akan mencapai target. Pasokan beras akan berkurang dan harga di tingkat petani maupun masyarakat berpotensi naik,” ujar Taufik, Sabtu (8/8).
Ia juga menyoroti kondisi di Desa Dadakitan. Menurutnya, puluhan hektare sawah yang sebelumnya sangat produktif sudah sekitar delapan tahun tidak lagi ditanami padi karena tanggul penahan air rusak sehingga aliran air ke areal persawahan terputus.
Taufik menegaskan kebutuhan utama petani sebenarnya sederhana, yakni perbaikan irigasi, ketersediaan pupuk tepat waktu, serta distribusi pupuk yang lancar agar produksi pertanian kembali meningkat.
Normalisasi saluran irigasi dan perbaikan tanggul penahan air sebelum memasuki musim tanam berikutnya. Penyediaan pompa air dan embung sementara di daerah yang mengalami kekeringan parah agar petani masih dapat menanam.
Percepatan distribusi pupuk bersubsidi serta pengawasan penyalurannya agar tepat sasaran.
Pendataan lahan terdampak dan pemberian bantuan benih bagi petani yang mengalami gagal panen.
Pembentukan tim terpadu penanganan kekeringan pertanian yang melibatkan pemerintah daerah, KTNA, penyuluh pertanian, dan kelompok tani untuk pemantauan lapangan secara berkala.
Menurut Taufik, langkah-langkah tersebut penting dilakukan secepat mungkin agar produksi padi pada musim tanam berikutnya dapat diselamatkan dan stabilitas harga beras tetap terjaga.
“Kami berharap pemerintah daerah tidak menunggu sampai harga beras benar-benar melonjak. Perbaikan irigasi harus menjadi prioritas karena menyangkut ketahanan pangan daerah dan keberlangsungan hidup petani,” pungkasnya.
Ketua KTNA berharap dengan penanganan cepat dan terukur, produktivitas sawah di Kabupaten Tolitoli dapat kembali pulih sehingga pasokan beras tetap aman dan masyarakat tidak terbebani kenaikan harga pada akhir tahun 2026.(*)











