oleh

Moringa Organik Indonesia Bangun Pabrik Kelor di Sulteng

Suluhmerdeka.com – Moringa Organik Indonesia (MOI) memulai pembangunan pabrik kelor di Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Peletakan batu pertama dilakukan hari Jumat, 30 Oktober 2020.

Owner & Founder Moringa Organik Indonesia A Dudi Krisnadi mengatakan besarnya potensi kelor di Sulawesi Tengah inilah yang mendorong untuk melakukan investasi. Pabrik kelor diberi nama Asean Moringa Learning Center- Integrated Organic Moringa Farm & Processing.

“Pohon kelor adalah salah satu tanaman yang paling luar biasa yang pernah ditemukan. Hal ini mungkin terdengar sensasional, namun faktanya memang Kelor terbukti secara ilmiah merupakan sumber gizi berkhasiat obat yang kandungannya diluar kebiasaan kandungan tanaman pada umumnya,” kata Dudi Krisnandi, usai peletakan batu pertama.

Menurut Dudi, kelor diyakini memiliki potensi untuk mengakhiri kekurangan gizi, kelaparan, serta mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit di seluruh dunia. Kelor benar-benar tanaman ajaib, dan karunia Tuhan sebagai sumber bergizi dan obat penyembuhan bagi umat manusia.

“Andrew Young, mantan Walikota Atlanta dan Duta Besar Amerika, menyebutkan Moringa shows great promise as a tool to help overcome some of the most severe problems in developing world-malnutrition, deforestation, impure water and proverty. The tree does best in the dry regions where these problem a worst,” kutip Dudi.

Dalam keterangan tertulisnya, disebutkan pada tahun 1999, adalah Fuglie LJ yang pertama kali mempublikasikan hasil penelitiannya yang mengejutkan dunia tentang kandungan nutrisi Kelor dan tertuang dalam buku “The Miracle Tree: Moringa oleifera: Natural Nutrition for the Tropics” (Church World Service, Dakar. 68 pp.;). Buku yang memicu gelombang penelitian ilmiah lanjutan tentang Kelor ini, kemudian direvisi tahun 2001 dan dipublikasikan kembali dalam judul : “The Miracle Tree: The Multiple Attributes of Moringa”.

Menurut hasil penelitiannya, daun Kelor ternyata mengandung vitamin A, vitamin C, Vit B, kalsium, kalium, besi, dan protein, dalam jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia.

Tidak hanya itu, Kelor pun diketahui mengandung lebih dari 40 antioksidan. Kelor dikatakan mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional Afrika dan India (Ayurvedic) serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah lebih dari 300 penyakit.

Dr Gary Bracey, seorang penulis, pengusaha, motivator, dan ahli kesehatan di Afrika, mempublikasikan dalam moringadirect.com, bahwa serbuk daun Kelor mengandung :

15 kali Kalium yang terkandung dalam pisang, 10 kali Vitamin A yang terkandung dalam Wortel, 4 kali Beta Carotene yang terkandung dalam Wortel,25 kali Zat Besi yang terkandung dalam bayam, 17 kali Kalsium dan 2 kali Protein yang terkandung dalam Susu, 9 kali Protein yang terkandung dalam Yogurt, 6 kali Zinc yang terkandung dalam almond, 5 kali Serat (Dietary Fiber) yang terkandung dalam sayuran pada umumnya.

Selain itu, kelor juga mengandung 6 kali Asam Amino yang terkandung dalam bawang putih, 100 kali GABA (gamma-aminobutyric acid) yang terkandung dalam beras merah 2 kali Phenol Poly terkandung dalam Red Wine,50 kali Vitamin B2 yang terkandung dalam Sardines, 50 kali Vitamin B3 yang terkandung dalam kacang, 4 kali Vitamin E yang terkandung dalam Minyak Jagung,
4 kali Vitamin B1 yang terkandung dalam daging babi.

Tahun 2006, Wiley InterScience mempublikasikan artikel berjudul “Moringa oleifera: A Food Plant with
Multiple Medicinal Uses”. Artikel tersebut merupakan ulasan tentang penggunaan bagian-bagian tanaman kelor sebagai obat penyembuh. Disebutkan, berbagai bagian dari tanaman Kelor berisi mineral penting dan merupakan sumber protein yang baik, vitamin, β-karoten, asam amino fenolat dan berbagai asam amino essensial lainnya. Kelor menyediakan kombinasi yang kaya dan langka dari zeatin, quercetin, β – sitosterol,
caffeoylquinic asam dan kaempferol.

Selain memiliki kekuatan sebagai pemurni air yang efektif dan nilai gizi
yang tinggi,

Kelor sangat penting untuk pengobatan alami. Berbagai bagian dari tanaman Kelor seperti daun, akar, biji, kulit
kayu, buah, bunga dan polong dewasa, bertindak sebagai stimulan jantung dan peredaran darah, memiliki
anti-tumor, anti-piretik, anti-epilepsi, anti-inflamasi, anti-ulcer, anti-spasmodic, diuretik, anti-hipertensi, menurunkan kolesterol, anti-oksidan, anti-diabetik, kegiatan hepatoprotektif, anti-bakteri dan anti-jamur.

Saat ini kelor sedang diteliti untuk digunakan dalam pengobatan penyakit yang berbeda dalam sistem kedokteran,
khususnya di Asia Selatan.

POTENSI TERLUPAKAN

Media India melaporkan bahwa pasar Moringa oleifera global berjumlah sekitar € 363 juta atau sekitar Rp 5.8
Trilyun pada tahun 2016. Mereka memperkirakan pasar ini mencapai € 626 juta atau sekitar Rp 10 Trilyun pada
tahun 2020. India juga merupakan pemasok utama Moringa oleifera di Eropa. Ekspor Moringa oleifera negara
tersebut dilaporkan tumbuh sebesar 26-30% per tahun.

Dari Januari 2014 sampai Oktober 2016, India mengekspor lebih dari 16.000 ton Moringa oleifera. Sebagian besar ekspor India diperdagangkan dengan Amerika Serikat (sumber: Zauba.com).

POTENSI PANGSA PASAR AGRI KREATIF KELOR

1. Suplemen gizi, pasar global senilai $ 93 miliar di tahun 2015
2. Makanan ringan, industri senilai $ 374 miliar di seluruh dunia
3. Minuman, industri teh global saja dihargai $ 15,4 miliar
4. Perawatan pribadi organik, sebuah pasar diperkirakan mencapai $ 16 miliar di seluruh dunia pada tahun 2020 Total senilai lebih dari 1.200 Triliun per tahun Kelor di Indonesia, terutama di Pulau Sulawesi, telah tumbuh sejalan dengan peradaban dan perjalanan sejarah kehidupan masyarakatnya, sebagai sebuah kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun.

Bahkan, kami meyakini bahwa sesungguhnya tanaman yang dikenal dengan nama latin Moringa oleifera ini berasal dari Sulawesi, bukan dari Himalaya India. Banyak bukti sejarah masa lampau yang dapat ditelusuri sejak zaman Sundaland, ketika Kalimantan, Jawa dan Sumatra masih bersatu dan kemudian terpisah, Pulau Sulawesi telah dan masih ada seperti bentuknya semula. Sayangnya, anugerah ini kemudian terlupakan karena perjalanan sejarah kehidupan Nusantara.

Kami meyakini, bahwa Kelor akan kembali menjadi tanaman yang sangat penting bagi kesejahteraan umat manusia. Namun demikian, semua itu akan sangat tergantung pada bagaimana mempertahankan kandungan nutrisi dan senyawa aktif dalam Kelor pada saat pengolahannya. Proses belajar yang terus menerus telah mengantarkan kami pada penemuan “Metode Pengunci Nutrisi Daun Kelor”. Sebuah cara khas Moringa Organik Indonesia dalam mengolah daun Kelor dengan tetap mempertahankan nilai nutrisinya yang tinggi.

Metode Pengunci Nutrisi Daun Kelor, atau disebut pula “Moringa Nutrition Lock Methode” adalah rangkaian perlakuan khusus yang saling terkait dalam pemanfaatan hasil panen Tanaman Kelor, berupa daun, bunga dan biji, mulai dari budidaya, panen, pasca panen, pengolahan, pengeringan, penepungan daun, pemerasan biji, pengemasan, sampai dengan distribusi produk akhirnya.

Perlakuan dimaksud tidak hanya terbatas pada tindakan, namun juga penggunaan alat dan peralatan yang digunakannya. Terabaikannya potensi sosial ekonomi tanaman kelor, lebih karena ketidaktahuan bangsa kita dalam
mengolahnya dengan benar untuk dapat dimanfaatkan sebagai Food (makanan dan minuman bernutrisi tinggi), Feed (Pakan Ternak yang berkualitas), Fertilizer (Pupuk alami yang menyuburkan tanah dan tanamn)
dan Natural Skincare (Perawatan tubuh alami yang menakjubkan). (*/ptr)

News Feed