oleh

Jenazah Bojes Dikuburkan di Desa Bolano Barat

Suluhmerdeka.com – Yuni dan Rahim tak kuasa menahan tangis, saat jasad anak sulungnya diangkat dari liang lahat. Keduanya hanya bisa pasrah.

Sabtu, 18 November 2020 suasana di halaman Rumah sakit Bhayangkara Palu nampak ramai. Sejumlah awak media berdiri didepan pintu gerbang rumah sakit. Mereka hendak menunggu dua Jenazah teduga anggota Mujahidin Indonesia Timur Poso, yang tewas akibat terlibat kontak tembak dengan tim Satgas Tinombala, di Wilayah Desa Bolano, Kabupaten Parigi Moutong.

Hasil identifikasi dua DPO MIT Poso adalah Wahid alias Bojes asal Desa Bolano Barat, Kabupaten Parigi Moutong, dan Aziz asal Kelurahan Lampe, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat.

Iring-iringan mobil jenazah yang dikawal Polisi, tiba dirumah sakit. Petugas yang berjaga dipersenjatai lengkap. Sementara, awak media tidak diizinkan masuk ke area rumah sakit.

Tak lama kemudian, seorang wanita berkerudung hitam yang ditemani oleh pria dengan jaket bewarna biru, turun dari salah satu mobil dalam iring iringan ambulans itu. Mereka berdua adalah Rahim dan Yuni, orang tua kandung dari Wahid alias Bojes, salah satu DPO MIT Poso yang tewas.

Keduanya berkeyakinan, salah satu terduga teroris yang tewas itu adalah anak mereka.

Tampak lesu, keduanya kemudian memberikan keterangan kepada media terkait keterlibatan sang anak.

Yuni mengaku kaget dengan apa yang menimpah anaknya itu. 2019, usai pernikahannya dengan seorang gadis di Desa Bolano Barat, anaknya tidak terlihat lagi. Pekerjaan di Ibu Kota Provinsi, Kota Palu, menjadi alasannya.

“Setau saya dia kerja di Palu, dibengkel,” cerita Yuni.

Wahid merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ia dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya. Namun, sejak saat itu tak ada kabar dari Wahid. Yuni mengaku tidak tahu jika anaknya selama ini terlibat jaringan teroris di Poso.

“Nanti pas meninggal ini baru saya tau kabarnya. Kalau yang itu saya tidak tau,” lanjut Yuni

Selasa, 19 November 2020 kedua Jenazah DPO selesai diotopsi dan siap untuk dimakamkan. Besar hati Yuni dan Rahim untuk membawa kembali jenazah anak mereka dan dikebumikan di kampung asalnya.

Sempat terjadi negosiasi antara keluarga dengan pihak kepolisian, karena pihak keluarga tak mau Wahid dimakamkan di kota Palu. Namun, hal itu tak terwujud. Polisi tetap memakamkan Wahid di Kota Palu bersama jenazah satu DPO MIT Poso lainnya yakni Aziz.

Sekitar pukul 02.30 WITA, Kamis (9/11) dini hari, dua jenazah tersebut dibawa dari rumah sakit Bhayangkara Palu dan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum, Kelurahan Poboya, Kota Palu.

Pihak keluarga terpaksa mengikuti dan menyusul ke lokasi pemakaman.

Saat proses pemakaman berlangsung, tangis Yuni, ibu Wahid tak terbendung. Ia jatuh pingsan saat berada di depan liang lahat anak sulungnya itu. Kondisi tubuhnya yang lemas membuat Yuni harus digotong kembali kedalam mobil.

Berawai, itu yang dirasakan Yuni dan keluarga. Harapannya, membawa kembali anaknya ke kampung halaman sirna.

“Waktu disana kami sudah dijanji. Terus alasannya katanya orang di kampung menolak pemakamannya, tapi ternyata tidak, ada surat juga dari Desa,” jelas Yuni.

Hari yang sama, Kamis (19/11), pihak keluarga memutuskan untuk menggali kembali makam Wahid dan memindahkan jenazahnya ke kampung halamannya di Desa Bolano Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

“Kami tidak sepakat jika jenazahnya dikubur disini, hari ini kami akan membongkar makamnya dan membawanya kembali pulang,” ucap paman Wahid, Mahyun.

Setelah menyediakan segala sesuatu untuk proses pemindahan jenazah, sekitar pukul 15:00 WITA, pihak keluarga yang dibantu oleh Tim Pengacara Muslim (TPM) mulai menggali kembali makam Wahid.

Tangis Rahim dan Yuni, ayah dan ibu Wahid kembali pecah saat melihat jasad anaknya dipindahkan dari dalam liang lahat ke dalam peti.

Meskipun sempat diguyur hujan, proses pemindahan jenazah ini berjalan lancar. Sekitar Pukul 16.20 WITA, Jenazah Wahid diberangkatkan ke kampung halamannya di Desa Bolano Barat, Kabupaten Parigi Moutong.

“Ia, pihak keluarga disana sudah menyiapkan semuanya, doakan lancar dan selamat sampai tujuan,” tutur Mahyun.

Kini, harapan Keluarga memulangkan Wahid alias Bojes ke tanah kelahirannya telah tercapai.

Jasad Wahid tiba di Kampung halamannya sekitar Pukul 22.00 WITA, sejumlah sanak keluarga dan warga setempat juga ikut mengantar jenazah Wahid ke tempat peristirahatan terakhirnya. (RAN)

News Feed