oleh

Roeslan Abdulgani, Kepiawaiannya Diabdikan untuk Negeri (1)

MENYAMBUT HUT Kemerdekaan RI, berikut kisah-kisah pahlawan kemerdekaan yang patut kita kenang kiprahnya untuk Indonesia. Meneladani mereka, menjadi bekal kita mengisi kemerdekaan, dan mendoakan mereka atas jasa yang mereka kontribusikan untuk negara. Pemaparan ini juga menunjukkan mereka manusia biasa, bukan manusia super. Ada sisi-sisi kemanusiaan yang menjadikan kita – yang kini menikmati sumbangsih mereka – bahwa mereka kita terima dengan karya baktinya berikut kekurangan-kekurangannya. Jalan bijak memandang mereka – kita syukuri semuanya bersama kekurangannya. Tidak ada manusia sempurna. Kepahlawanan mereka, kepahlawanan manusiawi. Mari kita syukuri dan hikmati sumbangsih mereka untuk negeri, Dirgahayu Indonesia.

Secara lahiriah, fisiknya “dihias” jejak perang. Ia sosok yang mengalami serangan mitraliur Sekutu sehingga tiga jarinya hilang. Di Indonesia, beliau termasuk “manusia langka”, sedikit orang yang mengalami beberapa presiden, dan mengabdi kepada negara dalam masa kepemimpinan mereka.  Presiden terakhir yang dia kecap masa kepemimpinannya, SBY (atau Susilo Bambang Yodhoyono). Roeslan Abdulgani, dikenal sebagai negarawan dan politikus senior, berpulang di Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (29/6), sekitar pukul 10.20 WIB. Mantan Menteri Luar Negeri era Presiden Sukarno ini meninggal pada usia 91 tahun. Jenazahnya  dimakamkan di Taman Makam Pahlaman Kalibata, Jakarta Selatan. Atas izin Allah, hingga usia lanjut memorinya masih kuat dan menjejakkan banyak cerita.

Karier Roeslan Abdulgani, begitu moncer. Roeslan yang pernah terlibat pertempuran 10 November 1945, ketika Sekutu menghadapi Arek-arek Soroboyo, pada sebuah serangan sampai kehilangan tiga jarinya dihajar mitraliur Sekutu. Saat itu, Roeslan mendapat mandat sebagai Sekretaris Jenderal Menteri Penerangan (1947-1954), iapun terpaksa menyingkir dari Surabaya menuju Malang. Usai Agresi Militer kedua, tepatnya saat kedaulatan pindah dari Yogyakarta ke Jakarta, karir Roeslan juga menanjak sampai dimandatkan menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1954-1956. Setelah menjadi Sekjen Departemen Luar Negeri, ia kembali menjabat Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957). Pada 1962-1966, kembali Cak Roes didaulat menjadi Menteri Penerangan, dan menjadi Perdana Menteri pada 1966-1967.

Kepercayaan Zaman Bung Karno

Cak Roes selalu memperoleh amanah untuk berperan strategis negeri ini. Orientasi kebijakan Indonesia pada saat itu adalah mempertahankan kedaulatan dan membentuk otoritas negara itu sendiri, sambil menata kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sukarno sebagai aktor sentral (dalam hal ini berperan sebagai seorang presiden) berusaha memainkan peranannya sebagai seorang nasionalis sejati yang mempertahankan keutuhan bangsa dan negaranya. Pada fase itu, Roeslan Abdulgani mengekspresikan dirinya sebagai pembantu setia Soekarno.

Selama masa kepemimpinan Soekarno (1945-1965), politik luar negeri Indonesia high profile, flamboyan dan heroik, dipadu sikap antiimperialisme dan kolonialisme serta konfrontatif. Sehingga, gaya leadership Soekarno cenderung revolusioner. Tak heran, Indonesia era Soekarno diasosiasikan dengan kelompok negara-negara komunis. Kedekatannya dengan para pemimpin negara komunis menyebabkan kebijakan yang diterapkan pada masa itu terkesan mendekati garis kiri. Soekarno memiliki agenda politik luas yang mencakup gagasan-gagasan kiri, terkenal masa pemerintahan itu Soekarno membawa Indonesia pada aliran arah kiri dengan Poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Pyongyang-Peking yang beliau buat.

Cak Roeslan: “Man of the All Season”

Konsekuensinya, Indonesia berada dalam posisi yang aneh di kalangan negara-negara Barat. Puncaknya adalah keluarnya Indonesia dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, Soekarno sendiri menyatakan bahwa dirinya bukan seorang komunis. Kedekatan Indonesia dengan negara-negara komunis pada saat itu ternyata mempengaruhi agresivitas politik luar negeri Indonesia. Hal ini tidak lepas dari faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pola pembentukan kebijakan pelaksanaan politik luar negeri.

Soekarno menjadi tokoh andalan Indonesia dalam forum internasional, bahkan karena hal tersebut, Soekarno juga dinobatkan sebagai “Presiden Seumur Hidup” oleh rakyat Indonesia. Sentralisasi peran Soekarno ini juga yang akhirnya mendorong beliau melakukan pendekatan-pendekatan “terpimpin” hingga akhirnya terbentuk Demokrasi Terpimpin Pancasila yang menggantikan Demokrasi Parlementer RIS. Pada masa pemerintahan Soekarno, Indonesia telah memprakarsai dan mengambil sejumlah kebijakan luar negeri yang sangat penting dan monumental, seperti Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia Afrika, Konferensi Irian barat dan Malaysia, dan politik poros-porosan Jakarta-Peking-Hanoi-Phnom Penh-Pyong Yang.

Kedekatan Roeslan dengan Bung Karno, menorehkan tersendiri. Sejarah mencatat kisah seorang perempuan yang sempat ditengarai intel CIA. Pada suatu kesempatan, saat itu Roeslan Abdulgani mendampingi Bung Karno yang mengunjungi Mesir (enam kali Bung Karno ke Mesir), pada tahun 1965 (terakhir). Di hotel tempat Bung Karno menginap, Roeslan didekati seseorang. Didiceritakan dalam buku Tokoh Segala Zaman yang ditulis Casper Schuuring, jurnalis Belanda. Roeslan bilang kepada Casper,“Soekarno yang memang mata keranjang menanyakan kepada saya, siapa wanita itu?” Lalu Bung Karno meneruskan, “Biarkan dia datang.” kata Soekarno. Perempuan itu mengatakan kepada Soekarno bahwa dia ingin melakukan penelitian dan menulis buku tentang Indonesia. Dia meminta bantuan Soekarno agar bisa ke Indonesia. Menteri Urusan Luar Negeri Pakistan, Ali Bhutto, yang mendengar permintaan perempuan itu, mengingatkan, “Berhati-hatilah, Bung Karno!”

Soekarno memenuhi permintaan perempuan itu. Dia mengatur agar perempuan itu bisa ke Indonesia. Dia menyambutnya di Istana Merdeka dan memberinya seorang pembantu perempuan untuk menemaninya ke mana-mana. Waktu berlalu, Roeslan pun tak memikirkan soal perempuan itu. Pada tahun 1971, Roeslan bertemu sosiolog W.F. Wertheim di Belanda. Dia mengatakan kepada Roeslan bahwa orang-orang di sekeliling Soekarno telah disusupi CIA. “Juga seorang wanita Amerika, Pat Price disebut,” kata Roeslan. “Saya mengenalnya di Kairo ketika Soekarno mengunjungi Nasser.” Wertheim bertanya pada Roeslan, “Siapa wanita itu? Bagaimana dia berhasil bertemu dengan Sukarno, apakah dapat dilakukan segampang itu, apakah CIA berada di belakang ini semua?”

Penjelasan Cak Roeslan, “Mengenai apa yang dikemukakan itu saya hanya dapat ketawa saja.” Roeslan menyebut Pat Price adalah anak seorang pengusaha minyak yang menikah dengan seorang wartawan Australia. “Pat Price juga ingin sekolah di Indonesia dan saya mengundangnya,” kata Roeslan. “Dia memang benar kuliah dan saya beberapa kali menemaninya dalam pertemuan dengan Soekarno.” Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Tjakrabirawa, menyaksikan kehadiran Pat Price di Istana Merdeka. “Di Istana Merdeka, pada suatu hari kedatangan seorang tamu, seorang gadis cantik dari Amerika Serikat. Gadis cantik ini beraudiensi untuk bisa menghadap Bung Karno,” kata Mangil dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967. Setelah menghadap Soekarno, kata Mangil, hampir setiap hari gadis cantik itu ikut ngobrol dengan para tamu yang setiap pagi menemani Soekarno minum kopi di serambi sebelah belakang Istana Merdeka. Soekarno mengizinkan Pat Price bergaul dan berteman dengan putra-putrinya. Dia belajar menari dan lain-lain. “Gadis cantik dari negara Amerika ini dapat keluar masuk istana dengan leluasa,” kata Mangil.

Masih cerita tentang perempuan Amerika itu. Dari cerita Mangil, Presiden Ayub Khan bertanya apakah di istana ada seorang gadis cantik dari Amerika Serikat?

“Ya, memang ada. Dia kawan anak-anakku,” kata Soekarno.

“Apakah Bung Karno tahu betul, siapa gadis cantik itu sebenarnya?” tanya Ayub Khan.

“Ya, saya tahu, dia anak baik-baik, ingin belajar menari, menyanyi dan berkesenian di Jakarta,” jawab Sukarno.

Ayub Khan tersenyum. “Hai, Bung Karno, saya mendapat informasi dari intel saya di Pakistan. Saya belum kenal, apalagi melihatnya, tetapi saya tahu bahwa dia anggota CIA. Sedangkan Bung Karno yang sudah melihat dari dekat dan sudah kenal dengan baik, tapi belum tahu siapa dia sesungguhnya. Gadis cantik tersebut justru sudah dikenal oleh intel Pakistan sebagai anggota CIA.” Menurut Mangil, Soekarno merasa heran begitu hebatnya dinas intelijen Pakistan dan begitu baik hati Presiden Ayub Khan yang bersedia memberikan keterangan yang sangat berharga itu.

Soekarno sendiri mengatakan kepada sahabatnya, wartawan Belanda Willem Oltmans, bahwa “Beberapa bulan kemudian saya mendapat laporan dari dinas rahasia kami. Nona Price, gadis yang manis dan agak genit itu ternyata agen CIA.” Mengetahui hal itu, Soekarno pun merasa kesal. “Ke mana-mana dia memanfaatkan nama saya, dan surat pengantar dari saya, dan menyalahgunakan bantuan saya dan keramahan kami sebagai tuan rumah, karena sebenarnya dia adalah mata-mata yang tidak sopan dan tidak beradab.”

“Apa yang meyakinkan dinas rahasia Indonesia bahwa gadis ini bekerja secara khusus untuk CIA,” tanya Oltmans dalam Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?

Soekarno menjelaskan, anggota dinas rahasia membuntuti Pat Price dengan hati-hati. Dia mengatur pertemuan dengan agen Amerika Serikat lainnya di tengah malam. Dia sering menemui para anggota Kedutaan Besar Amerika Serikat pada saat-saat yang tidak biasa dan di tempat-tempat yang tidak biasa pula.

“Yang terutama menarik perhatian kami adalah beberapa kali pertemuan terselubungnya dengan atase militer Amerika Serikat,” kata Soekarno. Bung Karno melanjutkan,“Dia bahkan berhasil masuk ke lingkungan tertinggi kemiliteran kami. Gadis Amerika Serikat itu diusir dari Istana dan juga dari Indonesia.”cerita Mangil. Berhasil masuknya agen CIA ke istana membuat Soekarno mendamprat, “Intel kita kebobolan, Tjakrabirawa kebobolan!”

 

Ideolog Pemerintahan Soeharto

“Titik ekstrim” yang harus dialami Cak Roeslan adalah, peralihan kekuasaan saat Soeharto berkuasa. Soeharto mendayagunakan posisi Roeslan Abdulgani dengan menjadikannya Team penasehat Presiden tentang Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, yang pernah Roeslan ikut menentukan ukuran bagi berhasil atau tidaknya penataran P4 yang dilakukan selama masa itu. Roeslan “banting stir”, dari orang kepercayaan Soekarno, menjadi ‘ideolog’ pada masa Soeharto berkuasa. Saat memimpin Indonesia, Letnan Jenderal Soeharto pertama kali melakukan langkah stabilitasi. Gagasan sosialisasi pemahaman Pancasila disampaikan oleh Presiden Soeharto pada acara Hari Ulang Tahun ke-25 Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, 19 Desember 1974. Kemudian dalam pidatonya menjelang pembukaan Kongres Nasional Pramuka pada 12 Agustus 1976, di Jakarta, Presiden Soeharto menyerukan kepada seluruh rakyat agar berikrar pada diri sendiri mewujudkan Pancasila dan mengajukan Eka Prasetya Pancakarsa bagi ikrar tersebut. Gagasan yang disampaikan oleh Presiden Soeharto ini memulai dibentuknya sebuah penyusunan pedoman yang akan dikenal sebagai P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Poin penting Eka Prasetya Pancakarsa:

  1. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghargai orang lain yang berlainan agama/kepercayaan;
  2. Mencintai sesama manusia dengan selalu ingat kepada orang lain, tidak sewenang-wenang;
  3. Mencintai tanah air, menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi;
  4. Demokratis dan patuh pada putusan rakyat yang sah;
  5. Suka menolong orang lain, sehingga dapat meningkatkan kemampuan orang lain.

Kelima poin itu, selanjutnya diturunkan ke dalam P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), yang disahkan dalam Tap MPR dan dilaksanakan, selanjutnya ORSOSPOL (Organisasi Sosial Politik) yang diseragamkan dalam arti harus mau menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas partai dan organisasi (“Asas Tunggal”). Gagasan Asas Tunggal ini disampaikan oleh Presiden Soeharto dalam pidato pembukaan Rapat Pimpinan ABRI (Rapim ABRI), di Pekanbaru, Riau, tanggal 27 Maret 1980 dan dilontarkan kembali pada acara ulang tahun Korps Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha) di Cijantung, Jakarta 16 April 1980. Pemenjarakan atau pencekalan tokoh-tokoh pengkritik kebijakan pemerintah Orde Baru, mendominasi ’warna politik’ ketika itu. Roeslan mendapat posisi powerfull sebagai ‘penerjemah pemerintah Orde Baru.’

Awal masa pemerintahan Soeharto, Indonesia masih fokus pada pembangunan sektor ekonomi. Keterikatan pada pola-pola ekonomi maupun politik internasional mempunyai signifikansi yang tinggi untuk memahami dinamika internal yang menjadi faktor determinan dalam mempengaruhi politik luar negri di masa Soeharto. Faktor-faktor politik dan ekonomi yang dianggap paling berpengaruh itu: kondisi domestik, modalitas, struktur dan proses penentuan politik luar negeri, agenda utama, isu-isu domestik yang dominan dan gaya serta pola kepemimpinan politik. Pembangunan ekonomi tidak dapat dilaksanakan secara baik, tanpa stabilitas politik dan keamanan dalam negeri maupun di tingkat regional. Karea itulah Soeharto mengambil beberapa langkah kebijakan politik luar negri, yaitu membangun hubungan yang baik dengan pihak-pihak Barat dan good neighbourhood policy melalui Association South East Asian Nation (ASEAN). Titik berat pembangunan jangka panjang kita adalah pembangunan ekonomi, untuk mencapai struktur ekonomi yang seimbang dan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, pada dasawarsa abad yang akan datang. Tujuan utama politik luar negeri Soeharto pada awal penerapan New Order (tatanan baru) adalah untuk memobilisasi sumber dana internasional demi membantu rehabilitasi ekonomi negara dan pembangunan, serta untuk menjamin lingkungan regional yang aman yang memudahkan Indonesia untuk berkonsentrasi pada agenda domestiknya. (Bersambung)

 

Penulis : Iqbal Setyarso

(Mantan Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT). Saat ini dewan penasihat Indonesia Care_ (lembaga kemanusiaan))

News Feed