Daerah

Puluhan Orang Tua Siswa di Tolitoli Pertanyakan Kualitas dan Nilai MBG, Keluhan Ramai di Media Sosial

0
×

Puluhan Orang Tua Siswa di Tolitoli Pertanyakan Kualitas dan Nilai MBG, Keluhan Ramai di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Tampak paket MBG yang diberikan kepada salah satu siswa, berupa roti, kacang, kurma dan telur dihari pertama sekolah setelah libur awal ramadan

TOLITOLI, Suluh Merdeka – Puluhan orang tua siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Tolitoli mempertanyakan kualitas serta nilai makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anak-anak mereka.

Paket makanan yang dibagikan disebut hanya berupa jeruk, kacang roti, kurma dan pisang, dengan dugaan nilai harga yang jauh di bawah standar anggaran yang semestinya, bahkan ada sekolah yang hanya mendapat pisang roti dan jeruk dalam satu kemasan.

Kekecewaan para orang tua tidak disampaikan melalui aksi protes langsung ke sekolah maupun instansi terkait. Sebaliknya, keluhan tersebut ramai diunggah melalui berbagai platform media sosial dan grup percakapan daring warga Tolitoli setelah hari pertama masuk sekolah paska libur awal ramadan.

Dalam sejumlah unggahan yang beredar, tampak paket makanan yang terdiri dari satu buah jeruk, satu bungkus kecil kacang roti, dan satu buah pisang. Beberapa orang tua mempertanyakan keseimbangan gizi serta kesesuaian nilai ekonomis makanan tersebut jika dibandingkan dengan besaran anggaran program.

“Saya tidak mempermasalahkan jenis makanannya, tapi kalau memang ada standar anggaran per anak, seharusnya bisa lebih layak dan bergizi,” tulis Ambo Umang dalam unggahannya.

Orang tua lainnya menyebutkan bahwa program MBG sejatinya sangat baik dan patut didukung, terutama untuk membantu pemenuhan gizi siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Namun, mereka berharap pelaksanaannya dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan.

“Kalau memang anggarannya sekian rupiah per anak, seharusnya bisa dijelaskan ke publik supaya tidak muncul kecurigaan,” tulis Kasman salah satu orang tua siswa lainnya.

Beberapa orang tua menduga nilai makanan yang dibagikan tidak sebanding dengan standar harga yang biasanya ditetapkan dalam program bantuan konsumsi siswa. Meski belum ada data resmi yang dipublikasikan terkait besaran anggaran per paket, perbandingan harga pasar membuat sebagian orang tua merasa ada selisih yang cukup jauh.

Namun hingga kini, belum ada laporan resmi atau pengaduan tertulis yang disampaikan kepada pihak sekolah maupun instansi terkait. Keluhan masih sebatas percakapan dan unggahan di media sosial.

Idham Dahlan, pemerhati pendidikan di Tolitoli menilai, polemik ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Program bantuan makanan untuk siswa pada dasarnya bertujuan baik, yakni mendukung pemenuhan gizi anak serta meningkatkan konsentrasi belajar.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah keterbukaan informasi. Jika ada rincian anggaran dan mekanisme pengadaan yang jelas, tentu keresahan masyarakat bisa diminimalisir,” ujar Idam.

Para orang tua berharap pihak pelaksana program dapat memberikan penjelasan terbuka terkait standar menu, nilai anggaran per siswa, serta mekanisme distribusi. Mereka juga mendorong agar pengawasan dilakukan lebih ketat agar program sosial yang bertujuan membantu masyarakat benar-benar tepat sasaran.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai keluhan yang ramai diperbincangkan tersebut. Masyarakat pun menunggu klarifikasi guna memastikan bahwa program MBG berjalan sesuai prinsip akuntabilitas dan benar-benar memberi manfaat maksimal bagi para siswa di Tolitoli (Rendra)