Daerah

Normalisasi Sungai di Pinjan dan Diule, BPBD Tolitoli Perkuat Mitigasi Pascabanjir Bandang

0
×

Normalisasi Sungai di Pinjan dan Diule, BPBD Tolitoli Perkuat Mitigasi Pascabanjir Bandang

Sebarkan artikel ini
TINJAU KONDISI SUNGAI, Tampak Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulteng bersama tim BPBD Tolitoli Kabupaten saat melakukan observasi sungai Desa Diule dan Pinjam belum lama ini

TOLITOLI, Suluh Merdeka – Pascabanjir bandang yang melanda Desa Pinjan dan Desa Diule, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli pada awal tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli bergerak cepat melakukan langkah mitigasi melalui program normalisasi sungai.

Banjir yang dipicu luapan sungai tersebut sempat merendam permukiman warga dan lahan pertanian. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah penanganan guna mencegah terulangnya bencana serupa.

Kepala Pelaksana BPBD Tolitoli, Ir. Abdullah Haruna, S.Pt, menjelaskan bahwa kedua desa tersebut tergolong rawan banjir akibat berkurangnya daerah resapan air serta terjadinya pendangkalan sungai.

“Berkurangnya daerah resapan air karena alih fungsi lahan dan sedimentasi sungai membuat kapasitas tampung air menurun. Saat curah hujan tinggi, air meluap karena tidak mengalir secara maksimal,” jelas Abdullah.

Dalam upaya penanganan, Abdullah mengakui keterbatasan anggaran di tingkat kabupaten menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pihaknya melakukan koordinasi intensif dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah.

“Alhamdulillah, hasil koordinasi kami dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah membuahkan hasil. Normalisasi sungai di dua desa tersebut disetujui dan dibiayai melalui anggaran BPBD Provinsi,” ujarnya.

Ia menambahkan, belum lama ini dirinya bersama Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Asbudianto, telah turun langsung meninjau lokasi terdampak. Saat ini, proses normalisasi sungai sudah mulai dikerjakan sepenuhnya oleh tim dari Provinsi.

TIM TEKNIS MULAI BEKERJA, Tampak tim Teknis BPBD Provinsi Sulteng, saat melakukan penelitian pada beberapa titik sepanjang alur sungaii

“Pekerjaan saat ini sudah berjalan dan seluruh proses teknis dilaksanakan oleh BPBD Provinsi Sulawesi Tengah,” tambahnya.

Tak hanya fokus pada penanganan fisik melalui normalisasi sungai, BPBD Tolitoli juga memperkuat upaya mitigasi non-struktural. Salah satunya dengan memberikan edukasi budaya sadar bencana kepada masyarakat dan pelajar di wilayah rawan.

Menurut Abdullah, sosialisasi tersebut mencakup pemahaman dasar kebencanaan, langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana, hingga pentingnya menjaga lingkungan sebagai bentuk pencegahan.

“Kami juga membentuk relawan bencana di tingkat desa dan kelurahan. Ini penting agar ada kesiapsiagaan berbasis masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, langkah-langkah tersebut merupakan hasil evaluasi dari sejumlah kejadian bencana yang pernah melanda Kabupaten Tolitoli sebelumnya. Dari evaluasi itu, disimpulkan bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi menjadi kunci utama dalam menekan risiko.

“Bencana memang tidak bisa dihindari, apalagi daerah kita memiliki potensi kerawanan. Namun dampaknya bisa diminimalisasi jika masyarakat siap dan memahami cara menghadapinya,” tegasnya.

Abdullah juga mengimbau masyarakat agar mulai membiasakan hidup berdampingan dengan potensi bencana, termasuk memperhatikan aspek keamanan dalam pembangunan rumah serta meningkatkan pengetahuan secara mandiri terkait kebencanaan.

“Upaya mitigasi sangat penting untuk meminimalisasi risiko bencana dan mengurangi korban jiwa, kerugian harta benda, serta kerusakan lingkungan,” pungkasnya.

Dengan normalisasi sungai dan penguatan kapasitas masyarakat, diharapkan Desa Pinjan dan Desa Diule dapat lebih tangguh menghadapi musim hujan mendatang serta mengurangi potensi banjir yang selama ini menjadi ancaman tahunan. (Rendra)