Daerah

Harga Elpiji 3 Kg Melambung, DPRD Tolitoli Minta Pemda Tertibkan Pangkalan dan Kios Nakal

2
×

Harga Elpiji 3 Kg Melambung, DPRD Tolitoli Minta Pemda Tertibkan Pangkalan dan Kios Nakal

Sebarkan artikel ini
Taufik, SE Wakil Ketua Komisi B DPRD Tolitoli

TOLITOLI, Suluh Merdeka – Banyaknya keluhan masyarakat terkait harga gas elpiji 3 kilogram yang dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) mendapat sorotan dari Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Tolitoli, Taufik, SE. Ia meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Tolitoli segera turun tangan meninjau kondisi di lapangan.

Menurut Taufik, gas elpiji 3 kilogram merupakan barang bersubsidi dari pemerintah yang diperuntukkan khusus bagi masyarakat kurang mampu. Karena itu, distribusi dan penjualannya harus mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan agar tepat sasaran.

“Pangkalan tidak bisa menjual gas elpiji tersebut kepada pihak yang tidak masuk kategori penerima. Gas 3 kilogram ini bersubsidi dan hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu,” tegas Taufik.

Ia menilai praktik penjualan yang tidak sesuai aturan dapat merugikan masyarakat kecil yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama dari subsidi tersebut.

Taufik juga mencontohkan kasus yang terjadi di Desa Lais, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli. Di desa tersebut, ditemukan salah satu kios campuran yang menjual gas elpiji 3 kilogram dengan harga mencapai Rp70.000 per tabung, jauh di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Menurutnya, hal tersebut jelas melanggar aturan, karena kios bukan merupakan pangkalan resmi yang memiliki izin menjual gas elpiji bersubsidi. Bahkan jika dilakukan oleh pangkalan sekalipun, penjualan dengan harga setinggi itu tetap tidak dibenarkan.

“Dengan adanya keluhan warga ini, saya meminta kepada Pemda Tolitoli melalui Kabag Ekonomi, Dinas Perdagangan, serta Satpol PP agar segera turun meninjau langsung apa yang menjadi keluhan masyarakat,” ujarnya.

Taufik juga mempertanyakan asal-usul gas elpiji tersebut hingga bisa sampai ke kios dan dijual dengan harga yang sangat tinggi. Ia menduga ada pangkalan yang tidak menjalankan aturan distribusi secara benar.

“Saya juga heran dari mana kios mendapatkan gas elpiji 3 kilogram yang kemudian mereka jual di luar harga HET,” tutur Taufik kepada awak media Rabu (11/3)

Ia menduga adanya praktik dari oknum pangkalan yang menjual gas elpiji bersubsidi kepada kios dengan harga yang sudah dinaikkan, sehingga kios kembali menjualnya kepada masyarakat dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Kalau pangkalan mengikuti mekanisme dan aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah Tolitoli, maka penjualan gas elpiji 3 kilogram pasti tepat sasaran dan harganya tetap sesuai HET, yakni sekitar Rp30.000 per tabung,” jelasnya.

Untuk itu, Taufik mengimbau pemerintah daerah agar memperketat pengawasan terhadap distribusi gas elpiji bersubsidi di seluruh wilayah Kabupaten Tolitoli. Ia menegaskan, jika ditemukan pangkalan maupun kios yang terbukti melakukan pelanggaran, maka harus diberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pengawasan harus diperketat agar gas bersubsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak. Jika ada pangkalan atau kios yang melanggar aturan, harus ditindak tegas,” tegasnya.

Ia berharap dengan adanya pengawasan yang lebih intensif dari pemerintah daerah, distribusi gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Tolitoli dapat kembali tertib, harga stabil, dan masyarakat kecil tidak lagi kesulitan mendapatkan gas bersubsidi dengan harga yang wajar. ( Rustam)