Berita

Mitigasi Tsunami Berbasis Teknologi dan Pendidikan, Kunci Ketahanan Wilayah Pesisir Tolitoli

0
×

Mitigasi Tsunami Berbasis Teknologi dan Pendidikan, Kunci Ketahanan Wilayah Pesisir Tolitoli

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi

TOLITOLI, Suluh Merdeka – Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik memiliki tingkat aktivitas seismik tinggi sehingga rawan gempa bumi dan tsunami. Kondisi ini juga menjadi perhatian serius di wilayah pesisir seperti Kabupaten Tolitoli yang berhadapan langsung dengan laut terbuka. Tingginya potensi ancaman tersebut menuntut adanya sistem pengurangan risiko bencana yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

Salah satu langkah penting dalam penanggulangan tsunami adalah mitigasi bencana. Mitigasi merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan sebelum bencana terjadi untuk mengurangi risiko dan dampak. Dalam konteks tsunami, mitigasi mencakup pembangunan sistem peringatan dini, penyediaan jalur evakuasi, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta edukasi masyarakat pesisir.
Kajian internasional mengenai sistem peringatan dini tsunami atau Tsunami Early Warning Systems menunjukkan bahwa teknologi menjadi elemen kunci mitigasi modern. Sistem ini bekerja melalui beberapa tahapan, mulai dari pendeteksian gempa menggunakan seismograf, pemantauan tekanan dasar laut dengan sensor khusus, analisis model numerik untuk memprediksi karakteristik gelombang, hingga penyebaran informasi cepat kepada masyarakat melalui sirene, pesan singkat, siaran radio, televisi, dan aplikasi digital.

Pemanfaatan teknologi seperti sensor bawah laut, satelit, sistem pemantauan GPS, dan simulasi komputer memungkinkan pemerintah mengambil keputusan dalam waktu terbatas. Dengan dukungan sistem ini, masyarakat di wilayah pesisir dapat memiliki waktu evakuasi sekitar 5 hingga 30 menit sebelum gelombang tsunami mencapai daratan. Berbagai studi menunjukkan bahwa sistem peringatan dini mampu menekan angka korban jiwa secara signifikan.

Namun efektivitas sistem peringatan dini tidak hanya ditentukan kecanggihan teknologi. Tantangan seperti biaya operasional tinggi, keterbatasan infrastruktur di daerah terpencil, serta rendahnya tingkat kesiapsiagaan masyarakat masih menjadi hambatan. Tanpa edukasi yang memadai dan latihan evakuasi berkelanjutan, sistem peringatan dini berpotensi tidak berjalan optimal.

Karena itu, diperlukan strategi mitigasi tsunami yang lebih komprehensif melalui pemeliharaan alat secara rutin, pembaruan teknologi berkala, serta pemerataan infrastruktur hingga wilayah pesisir terpencil. Koordinasi antarinstansi juga perlu diperkuat agar informasi peringatan disampaikan cepat, akurat, dan tidak menimbulkan kepanikan.

Di sisi lain, pendidikan dan literasi kebencanaan memegang peran penting. Edukasi tentang tanda-tanda alam sebelum tsunami, prosedur evakuasi, serta penentuan titik kumpul aman perlu diberikan sejak usia dini. Simulasi evakuasi rutin, minimal satu hingga dua kali setahun, diyakini mampu membentuk kebiasaan respons cepat masyarakat.

Mitigasi tsunami juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan media massa. Sinergi ini penting agar kebijakan berbasis data ilmiah dapat diterapkan efektif di lapangan. Tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam edukasi pertolongan pertama, kesiapan fasilitas kesehatan, serta dukungan psikologis pascabencana.

Sebagai rekomendasi, pemerintah diharapkan meningkatkan investasi teknologi pemantauan tsunami serta memperluas edukasi kebencanaan di wilayah pesisir, termasuk di Tolitoli. Perguruan tinggi juga didorong mengembangkan riset dan inovasi berbasis bukti untuk mendukung sistem mitigasi yang adaptif.

Mitigasi tsunami yang efektif harus mengintegrasikan teknologi dan pendidikan secara seimbang. Sistem peringatan dini yang canggih tidak akan berdampak maksimal jika masyarakat belum memahami cara meresponsnya. Karena itu, peningkatan literasi kebencanaan melalui edukasi berkelanjutan, simulasi rutin, serta integrasi materi kebencanaan dalam kurikulum pendidikan menjadi sangat penting.

Pengembangan pendidikan pascasarjana di bidang kesehatan masyarakat dan manajemen kebencanaan juga dinilai strategis dalam mencetak tenaga profesional yang kompeten. Pendidikan tinggi berbasis riset kebencanaan merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ketahanan bangsa.

Mitigasi tsunami berbasis teknologi dan pendidikan merupakan pendekatan komprehensif dalam pengurangan risiko bencana. Sistem peringatan dini meningkatkan ketahanan wilayah pesisir melalui deteksi cepat dan penyampaian informasi real-time, namun keberhasilannya bergantung pada kesiapan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia.

Dengan integrasi teknologi, kebijakan, dan pendidikan, ketahanan masyarakat pesisir terhadap ancaman tsunami dapat ditingkatkan secara berkelanjutansebuah langkah penting bagi keselamatan warga di daerah rawan seperti Tolitoli.

Ditulis oleh : Alwansya Y Kuntin.                                    : Sahpur

Dalam rangka menyelesaikan tugas pokok studi pasca sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat  di Universitas Muhamadiyah Palu