TOLITOLI, Suluh Merdeka – Pagi itu, Senin 6 April 2026, langit di Bandara Sultan Bantilan masih berbalut cahaya lembut ketika sebuah pesawat ATR mendarat mulus di ujung landasan. Dari dalamnya, rombongan tim Kementerian Lingkungan Hidup RI melangkah turun, membawa satu misi penting, memastikan kesiapan Kabupaten Tolitoli menuju panggung nasional dalam Program Adipura.
Tak ada jeda panjang. Didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tolitoli, Didi Nasir, tim yang dipimpin Jonathan De Santo, SP bersama Syifa Nailah, S.Si langsung bergerak cepat. Sejumlah titik strategis menjadi tujuan, mulai dari bandara, kawasan pelabuhan di bawah pengelolaan PT Pelindo, hingga fasilitas vital seperti RSUD Mokopido, depo Pertamina, dan SPPG Pesantren Hidayatullah.
Langkah mereka bukan sekadar kunjungan seremonial. Di setiap lokasi, pengamatan dilakukan dengan cermat menyentuh aspek kebersihan, pengelolaan limbah, hingga estetika lingkungan. Sesekali, diskusi kecil terjadi di sela peninjauan, menandakan adanya proses pembinaan yang berjalan aktif di lapangan.
“Agar Kabupaten Tolitoli layak ikut program Adipura, kami melakukan pengambilan sampel, pendampingan, serta pembinaan. Ini penting supaya seluruh kriteria bisa dipenuhi sebelum tim penilai resmi turun,” ungkap Jonathan saat ditemui di sela kunjungan.
Baginya, kehadiran tim kementerian bukan untuk mencari kekurangan semata, melainkan memastikan daerah memiliki arah yang jelas dalam memenuhi standar lingkungan yang berkelanjutan. Ia pun menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam melakukan evaluasi berkelanjutan.
“Kami berharap DLH Tolitoli lebih proaktif, mempercepat pemenuhan persyaratan, serta melakukan pembenahan di titik-titik krusial. Adipura bukan hanya soal penghargaan, tapi komitmen menjaga lingkungan hidup,” tambahnya.

Salah satu titik yang menjadi perhatian serius adalah RSUD Mokopido. Di fasilitas layanan kesehatan ini, tim kementerian menaruh fokus pada pengelolaan limbah medis dan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Peninjauan dilakukan secara detail, mulai dari proses pengumpulan hingga pembuangan limbah.
Didampingi jajaran DLH dan pihak rumah sakit, tim menyusuri area pengolahan limbah. Bau khas medis yang samar tak menghalangi mereka untuk memastikan setiap prosedur berjalan sesuai standar. Di sinilah, pembinaan teknis diberikan secara langsung.
“Kami ingin memastikan bahwa pengelolaan limbah medis tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga benar-benar aman bagi lingkungan dan masyarakat,” jelas Syifa Nailah.
Bagi pihak rumah sakit, kehadiran tim ini menjadi momentum evaluasi sekaligus pembelajaran. Standar yang sebelumnya dianggap cukup, kini diuji kembali untuk ditingkatkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tolitoli, Didi Nasir,S.Sos.MH tak menampik bahwa perjalanan menuju Adipura masih panjang. Namun, optimisme tetap terjaga.
“Sejauh ini kami terus memaksimalkan pemenuhan kriteria, mulai dari kebersihan pemukiman, pertokoan, fasilitas umum, taman, hingga pengelolaan sungai, pantai, TPS liar dan TPA. Saat ini progres kami berada di kisaran 40 hingga 50 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, kunjungan tim kementerian akan menjadi semangat dorongan besar bagi pihaknya untuk bekerja lebih maksimal ditengah kondisi sangat minimnya anggaran yang dimiliki DLH Tolitoli
“Insya Allah, kami akan terus berbenah. Harapannya, Tolitoli bisa memenuhi seluruh kriteria dan mendapatkan kesempatan ikut dalam penilaian Adipura,” tambah Didi.
Lebih dari sekadar angka persentase, upaya ini sejatinya adalah tentang membangun kesadaran kolektif. Bahwa kebersihan kota bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas kota, langkah kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, hingga pengelolaan limbah yang tepat, menjadi fondasi penting menuju perubahan besar.
Kunjungan ini pun menjadi penanda bahwa Tolitoli tengah bergerak. Perlahan, namun pasti. Menjemput asa dari lorong-lorong kota, dari sungai yang dibersihkan, dari taman yang ditata, hingga dari kesadaran warga yang mulai tumbuh.
Adipura mungkin adalah tujuan. Namun lebih dari itu, perjalanan menuju ke sana adalah tentang membangun kota yang layak huni, sehat, dan berkelanjutan untuk hari ini dan masa depan. (Rendra)












