12

SURABAYA – Usai terlibat cekcok dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama, Salim Ahmad (65) akhirnya meminta maaf dan mengakui perbuatannya yang telah menghina Rais Syuriah PWNU Jatim Nuruddin A Rahman dengan sebutan ‘PKI’.

Hal tersebut dibenarkan perwakilan massa Banser yang juga Sekretaris Lesbumi PWNU Jatim, Ahmad Zazuli. Ia mengatakan permintaan maaf Salim itu disampaikan sosok tersebut saat proses tabayyun di Mapolrestabes Surabaya.

“Iya Salim sudah mengakui dan meminta maaf,” kata Zazuli saat dikonfirmasi, Jumat (14/6).

Selain mengakui perbuatannya dan meminta maaf, Zazuli mengatakan, Salim juga menulis surat dan membuat video pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa.

‘Ya, ucapan itu (sebutan PKI), menurut yang didengar saudara semua ini benar,’ aku Salim dalam tayangan video tersebut.

“Atas kesalahan ucapan kami dan insyaallah ucapan kami tidak terulang lagi. Insyaallah sampai di sini sampai akhir hayat, sampai husnul khotimah. Saya tidak akan mengucapkan hal-hal yang salah, baik dari kalangan Banser NU maupun kalangan ulama-ulama kami ahlu sunnah wal jamaah,” ucapnya.

Pria yang Sebut Kiai NU 'PKI' Akui Perbuatan dan Minta Maaf
Usai terlibat cekcok dengan Banser NU, Salim Ahmad (65) akhirnya meminta maaf dan mengakui perbuatannya yang telah menghina Rais Syuriah PWNU Jatim KH Nuruddin A. Rahman dengan sebutan ‘PKI’. (CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)

Kendati demikian, kata Zazuli, mekanisme tabayyun ini masih dalam peninjauan oleh PC GP Ansor Surabaya, dan belum bersifat final. Polisi, kata dia, juga masih mendalami dugaan penghinaan tersebut.

Sebelumnya, sejumlah massa Banser emosional karena Salim Ahmad menyebut Kiai Nuruddin sebagai PKI saat menjadi saksi dalam kasus pencemaran nama baik terdakwa Sugi Nur Raharja alias Gus Nur di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (13/6).

“Kiai Nuruddin lewat, terus dia bilang ‘PKI lewat-PKI lewat’,” kata salah satu saksi, Abdurrohman, yang juga anggota Banser Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Setelah mengetahui kabar tersebut, sekelompok massa Banser lantas mengepung PN Surabaya karena Salim sempat tak mengakui perbuatannya. Ia kemudian dibawa ke Polrestabes Surabaya untuk proses tabayyun dengan perwakilan massa Banser.

(Sumber CNNIndonesia.com)