KPPA Sulteng Prihatin Kasus Pernikahan Dini di Shelter Pengungsian Marak Terjadi

31
Adriani

PALU – Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Sulawesi Tengah prihatin melihat kasus pernikahan dini yang marak terjadi di shelter pengungsian, baik di huntara, maupun tenda pengungsian.

“Saya sangat prihatin melihat kasus pernikahan dini yang kerap terjadi di tempat pengusian, karena itu akan merugikan kaum anak,” kata Ketua KPPA Sulteng, Adriani.

Menurutnya kasus perniakahan dini akan memberikan dampak negatif bagi anak seperti hilanngya hak pendidikan, hak bermain, serta hak untuk hidup bebas dari kekerasan, dan pelecehan.

“Banyak sekali dampak buruknya bagi anak, terutama bagi anak perempuan, karena itu juga bisa merusak sistem reproduksinya, bahkan anak perempuan memiliki resoki kematian melahirkan yang tinggi dibandingkan dengan wanita yang sudah cukup umur,” jelas Adriani.

Adriani menegaskan seharusnya orang tua harus lebih paham atas dampak pada anak yang menikah pada usia yang belum cukup. Tidak hanya itu, kata adriani orang tua juga harus lebih serius dalam mengawasi anaknya.

“Kasus pernikahan dini dapat dicegah jika ada pengawasan serius dari orang tua, dan saya pikir orang tua juga harus tau dan lebih memahami apa dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini,” tegas Adriani.

Adriani berharap pemerintah dapat mengambil tindakan untuk mengantisipasi adanya kasus pernikahan anak di bawah umur yang dinilai merugikan kaum anak.

Saat ini kasus pernikahan dini yang terjadi di shelter pengungsian korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, berjumlah 14 kasus.